Bayangkan sebuah bisnis sudah berjalan selama dua tahun.
Nama brand sudah dipakai di Instagram, marketplace, kemasan produk, banner toko, bahkan sudah mulai dikenal pelanggan. Pemiliknya merasa semuanya aman karena brand tersebut sudah digunakan sejak lama.
Kemudian, ketika ingin mendaftarkan merek, pemilik bisnis baru mengetahui bahwa ternyata ada merek lain yang memiliki nama atau unsur yang mirip.
Di titik ini biasanya muncul pertanyaan:
“Kalau saya sudah menggunakan nama ini lebih dulu, apakah berarti saya tetap aman?”
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Dalam sistem merek di Indonesia, ada prinsip first to file, sehingga waktu penggunaan brand di pasar tidak otomatis berarti seseorang sudah memiliki hak eksklusif atas merek tersebut.
Karena itu, pengecekan merek sebaiknya dilakukan sebelum bisnis menghabiskan terlalu banyak waktu dan biaya untuk membangun sebuah nama.
Lalu, bagaimana jika brand sudah terlanjur berjalan dan baru menemukan adanya merek yang mirip?
Studi Kasus: Brand Sudah Dibangun, Baru Cek Merek
Mari gunakan contoh sederhana.
Sebut saja ada bisnis bernama “Natura Bali”.
Bisnis ini awalnya hanya menjual produk skincare secara online.
Selama dua tahun, pemiliknya sudah:
- Membuat logo
- Mencetak packaging
- Membuat akun Instagram
- Menjalankan iklan
- Mengikuti bazar
- Membangun website
- Mengumpulkan pelanggan
- Menggunakan nama tersebut secara konsisten
Karena merasa brand sudah digunakan cukup lama, pemilik kemudian memutuskan untuk mendaftarkan mereknya.
Saat melakukan pengecekan, ternyata terdapat merek yang memiliki unsur nama yang mirip untuk barang atau jasa yang sejenis.
Pemilik kemudian berpikir:
“Tapi saya sudah pakai nama ini dari dua tahun lalu.”
Di sinilah pentingnya memahami bagaimana perlindungan merek bekerja.
Sudah Pakai Duluan Belum Tentu Berarti Sudah Aman
Penggunaan sebuah nama dalam kegiatan bisnis dan kepemilikan hak atas merek merupakan dua hal yang perlu dibedakan.
Dalam konteks pendaftaran merek di Indonesia, salah satu prinsip yang dikenal adalah first to file, yaitu pihak yang mengajukan permohonan lebih dahulu dapat memperoleh perlindungan apabila memenuhi ketentuan yang berlaku.
DJKI juga pernah menjelaskan prinsip ini dalam berbagai kasus penolakan merek.
UU No. 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis mengatur bahwa permohonan dapat ditolak apabila memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek terdaftar milik pihak lain atau merek yang dimohonkan lebih dahulu untuk barang dan/atau jasa yang sejenis.
Artinya, sekadar mengatakan:
“Saya sudah memakai nama ini lebih lama.”
belum otomatis menyelesaikan persoalan.
Karena itu, cek merek sebelum membangun brand merupakan langkah yang jauh lebih aman dibanding baru melakukan pengecekan ketika bisnis sudah berkembang.
Tapi Apakah Nama yang Mirip Pasti Ditolak?
Tidak juga.
Ini bagian yang sering disalahpahami pemilik bisnis.
Menemukan nama yang sama atau mirip dalam database merek bukan berarti permohonan baru pasti ditolak.
DJKI menjelaskan bahwa penilaian tidak hanya melihat apakah nama atau kelasnya sama.
Pemeriksaan substantif mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk apakah terdapat persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dan apakah barang atau jasa yang dibandingkan termasuk sejenis.
Bahkan, DJKI pada 2025 menegaskan bahwa merek yang memiliki persamaan dapat saja didaftarkan oleh pihak berbeda apabila barang atau jasa yang dilindungi tidak termasuk kategori sejenis, meskipun berada dalam kelas yang sama.
Jadi, jangan menggunakan logika:
“Ada nama yang sama = pasti tidak boleh.”
Tetapi jangan juga menggunakan logika:
“Kelasnya berbeda = pasti aman.”
Keduanya terlalu sederhana.
Apa yang Dimaksud “Persamaan pada Pokoknya”?
Secara umum, persamaan pada pokoknya dapat berkaitan dengan kemiripan unsur dominan yang menimbulkan kesan adanya persamaan.
Dalam pemeriksaan, unsur seperti:
- Bentuk
- Cara penempatan
- Cara penulisan
- Kombinasi unsur
- Bunyi atau pengucapan
- Unsur dominan
dapat menjadi bagian dari penilaian.
Karena itu, mengganti satu atau dua huruf pada nama brand tidak otomatis membuat sebuah merek menjadi berbeda secara hukum.
Contohnya secara ilustrasi:
NUTRAFOL
dan
NUTRAFOR
bisa terlihat berbeda jika hanya melihat satu huruf terakhir.
Namun, perbandingan merek tidak berhenti pada menghitung berapa huruf yang berbeda.
Keseluruhan unsur dan kesan yang ditimbulkan perlu diperhatikan.
Hal ini menunjukkan mengapa pengecekan merek tidak sebaiknya dilakukan hanya dengan mencari nama yang benar-benar identik.
Baca juga: Kasus Merek Geprek Bensu: Pelajaran Penting untuk Pemilik Brand
Kenapa Cek Merek Sebaiknya Dilakukan Sejak Awal?
Kembali ke kasus “Natura Bali”.
Bayangkan pemilik bisnis baru mengetahui adanya masalah setelah:
- Packaging dicetak ribuan pcs
- Signage toko dibuat
- Website selesai
- Akun media sosial memiliki ribuan followers
- Iklan sudah berjalan
- Pelanggan mulai mengenal brand
- Produk mulai masuk ke beberapa toko
Jika kemudian nama tersebut ternyata sulit didaftarkan, biaya untuk mengganti brand bukan hanya biaya membuat logo baru.
Ada brand equity yang ikut dipertaruhkan.
Pemilik mungkin harus mengubah:
| Aset | Potensi pekerjaan ulang |
|---|---|
| Logo | Desain ulang |
| Kemasan | Cetak ulang |
| Website | Perubahan nama/domain/branding |
| Media sosial | Rebranding akun dan konten |
| Materi promosi | Produksi ulang |
| Signage | Penggantian fisik |
| Marketplace | Penyesuaian identitas toko |
| Iklan | Penyesuaian materi kampanye |
Belum termasuk waktu untuk menjelaskan perubahan kepada pelanggan.
Inilah alasan kenapa biaya melakukan pengecekan di awal biasanya jauh lebih masuk akal dibanding biaya rebranding setelah bisnis berkembang.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemilik Bisnis
1. Hanya mencari nama yang persis sama
Misalnya brand bernama “Natura”.
Pemilik hanya mencari “Natura” dan merasa aman ketika tidak menemukan hasil yang dianggap sama persis.
Padahal, pemeriksaan merek juga perlu memperhatikan nama yang memiliki kemiripan tertentu.
2. Hanya melihat Instagram dan Google
Ini juga cukup sering terjadi.
Pemilik mencari nama brand di Google, Instagram, TikTok, atau marketplace.
Kalau tidak ada bisnis yang terlihat menggunakan nama tersebut, mereka menganggap nama tersebut aman.
Padahal, keberadaan bisnis di internet dan status pendaftaran merek merupakan dua hal yang berbeda.
Database merek perlu diperiksa secara khusus.
3. Menganggap beda kelas pasti aman
Nomor kelas memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.
DJKI menjelaskan bahwa barang atau jasa dalam kelas yang sama belum tentu sejenis, dan barang atau jasa dalam kelas berbeda juga tidak otomatis berarti tidak sejenis.
Jadi, jangan menjadikan nomor kelas sebagai satu-satunya dasar keputusan.
4. Meniru nama yang terlihat sukses
Ada juga pemilik bisnis yang sengaja memilih nama yang terdengar mirip dengan brand yang sudah populer karena dianggap lebih mudah diingat.
Strategi seperti ini justru dapat meningkatkan risiko masalah apabila kemiripannya menimbulkan persoalan hukum.
Membangun brand sendiri memang membutuhkan waktu, tetapi jauh lebih sehat untuk bisnis jangka panjang.
Kalau Brand Sudah Terlanjur Digunakan, Harus Bagaimana?
Kalau brand sudah berjalan, jangan langsung panik ketika menemukan nama yang mirip.
Lakukan pemeriksaan secara bertahap.
Langkah 1: Identifikasi merek pembanding
Catat:
- Nama merek
- Nomor pendaftaran jika tersedia
- Pemilik
- Kelas
- Barang atau jasa
- Status pendaftaran
- Waktu permohonan atau pendaftaran
Jangan hanya menyimpan screenshot nama brand.
Informasi lengkap akan membantu ketika melakukan evaluasi.
Langkah 2: Bandingkan Barang atau Jasanya
Tanyakan:
Apakah bisnis saya dan merek pembanding menawarkan barang atau jasa yang sejenis?
Ini penting karena persamaan merek tidak dapat dinilai hanya dari nama.
Misalnya terdapat dua brand dengan nama yang mirip tetapi digunakan untuk aktivitas bisnis yang sangat berbeda.
Situasinya tentu perlu dilihat secara berbeda dengan dua brand yang memiliki nama mirip dan sama-sama menjual produk yang sama.
Langkah 3: Periksa Unsur yang Dominan
Jangan hanya melihat apakah ejaannya sama.
Perhatikan:
- Bunyi
- Tampilan
- Susunan kata
- Logo
- Elemen dominan
- Kesan keseluruhan
Tujuannya adalah memahami apakah kedua brand berpotensi dianggap memiliki kemiripan yang relevan.
Langkah 4: Tentukan Apakah Brand Masih Layak Dipertahankan
Setelah pemeriksaan dilakukan, pemilik bisnis dapat mempertimbangkan beberapa pilihan.
Misalnya:
Pilihan A — Tetap menggunakan brand
Dapat dipertimbangkan apabila hasil pemeriksaan menunjukkan risiko yang masih dapat dikelola.
Pilihan B — Mengubah elemen brand
Misalnya memperkuat unsur nama atau identitas visual agar berbeda.
Pilihan C — Rebranding sebelum bisnis semakin besar
Jika ditemukan risiko yang cukup serius, mengganti nama lebih awal bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal daripada menunggu bisnis berkembang lebih jauh.
Tentu, keputusan akhirnya perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing bisnis.
Jangan Menunggu Sampai Ada Surat Penolakan
Salah satu pola yang sebaiknya dihindari adalah:
Bangun brand → jalankan bisnis → populer → baru daftar merek.
Lebih baik pola pikirnya dibalik:
Cari nama → cek merek → evaluasi → tentukan kelas → baru bangun brand secara serius.
Dengan begitu, pemilik bisnis dapat mengurangi risiko menginvestasikan terlalu banyak sumber daya pada nama yang ternyata memiliki persoalan.
Pendaftaran merek memang bukan jaminan bahwa sebuah brand tidak akan pernah menghadapi sengketa.
Namun, pemeriksaan dan perencanaan sejak awal dapat membantu bisnis mengambil keputusan dengan informasi yang lebih baik.
Checklist Cek Merek Sebelum Brand Dibangun
Sebelum menggunakan nama secara serius, coba lakukan checklist berikut:
- Nama brand sudah ditentukan
- Pencarian nama dilakukan di database merek
- Nama yang mirip ikut diperiksa
- Barang atau jasa sudah dipetakan
- Kelas merek sudah ditentukan
- Merek pembanding dicatat
- Status merek pembanding diperiksa
- Pemilik merek pembanding diperiksa
- Kemiripan nama dan visual dievaluasi
- Kesamaan barang/jasa diperiksa
- Risiko brand sudah dipertimbangkan
- Baru setelah itu memutuskan investasi branding lebih besar
Checklist ini terutama penting untuk bisnis yang ingin membangun brand dalam jangka panjang.
Brand Sudah Jalan? Justru Jangan Menunda
Kalau brand kamu sudah terlanjur digunakan selama beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun dan belum pernah melakukan pemeriksaan merek, bukan berarti semuanya sudah terlambat.
Justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengetahui posisi brand tersebut.
Daripada terus mengeluarkan biaya untuk packaging, promosi, website, dan iklan tanpa mengetahui kondisi mereknya, lebih baik lakukan evaluasi terlebih dahulu.
Yang perlu diingat, cek merek bukan hanya untuk bisnis yang baru mulai.
Bisnis yang sudah berjalan juga perlu mengetahui apakah nama yang selama ini digunakan memiliki peluang untuk mendapatkan perlindungan dan apakah ada merek lain yang perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, membangun brand bukan hanya tentang membuat nama yang terdengar bagus.
Brand adalah aset bisnis.
Semakin banyak investasi yang sudah masuk ke dalam sebuah nama, semakin penting pula memastikan bahwa nama tersebut sudah dipertimbangkan dari sisi perlindungan merek.
Jika kamu sudah memiliki bisnis di Bali dan ingin mengetahui apakah nama brand yang digunakan perlu diperiksa lebih lanjut sebelum didaftarkan, Bali Trademark Service dapat membantu melakukan pemetaan dan memberikan arahan terkait perlindungan merek bisnis.
Kamu juga bisa menghubungi Bali Trademark Service melalui WhatsApp untuk membahas kondisi brand kamu lebih lanjut.
Karena sebelum membangun brand menjadi semakin besar, ada satu pertanyaan sederhana yang sebaiknya dijawab lebih dulu:
“Apakah nama ini benar-benar sudah saya cek?”
Baca juga: 7 Kesalahan Legalitas Brand yang Sering Dilakukan Pebisnis





