Kelas Merek: Cara Menentukan Kelas Barang dan Jasa untuk Bisnis

Kelas Merek: Cara Menentukan Kelas Barang dan Jasa untuk Bisnis

Sudah punya nama brand yang bagus dan siap didaftarkan?

Jangan buru-buru mengajukan pendaftaran merek.

Ada satu hal yang tidak kalah penting untuk dipahami terlebih dahulu, yaitu kelas barang atau jasa.

Saat mendaftarkan merek, pemilik bisnis tidak hanya mengajukan nama atau logo. Permohonan juga perlu mencantumkan kelas serta uraian barang dan/atau jasa yang menggunakan merek tersebut.

Ini penting karena perlindungan merek berkaitan dengan barang atau jasa yang tercantum dalam pendaftaran.

Jadi, sebuah brand makanan, clothing brand, agency digital marketing, hingga klinik kecantikan bisa membutuhkan kelas merek yang berbeda.

Lalu, bagaimana cara menentukan kelas merek yang tepat?

Apa Itu Kelas Merek?

Secara sederhana, kelas merek adalah sistem pengelompokan barang dan jasa yang digunakan dalam proses pendaftaran merek.

Indonesia menggunakan Nice Classification, yaitu sistem klasifikasi internasional yang membagi barang dan jasa ke dalam 45 kelas.

Pembagiannya secara umum adalah:

KelompokKelasJenis
Barang1–34Produk/barang
Jasa35–45Layanan/jasa

Jadi, ketika seseorang mengatakan “merek saya kelas 25” atau “merek saya kelas 35”, angka tersebut menunjukkan kelompok barang atau jasa yang ingin dilindungi melalui pendaftaran merek.

Namun, angka kelas saja belum cukup.

Di dalam satu kelas terdapat banyak jenis barang atau jasa dengan uraian yang lebih spesifik.

Karena itu, pemilik bisnis perlu memahami bukan hanya nomor kelas, tetapi juga apakah barang atau jasa yang dijalankan memang sesuai dengan kelas tersebut.

Kenapa Kelas Merek Penting?

Kelas merek bukan sekadar bagian dari formulir pendaftaran.

DJKI menjelaskan bahwa penentuan klasifikasi diperlukan antara lain untuk membedakan barang atau jasa serta menentukan ruang lingkup perlindungan berdasarkan jenis barang atau jasa yang tercantum dalam sertifikat merek.

Artinya, pemilik bisnis perlu memastikan bahwa barang atau jasa yang ingin dilindungi memang sudah dipetakan dengan benar.

Bayangkan sebuah bisnis memiliki brand yang digunakan untuk:

  • Menjual pakaian
  • Menjual tas
  • Menjual sepatu
  • Menawarkan jasa retail

Masing-masing aktivitas tidak otomatis berada dalam satu kelas yang sama.

Kalau pemilik bisnis hanya memilih kelas berdasarkan “nama bisnisnya”, ada kemungkinan klasifikasi yang dipilih tidak menggambarkan seluruh aktivitas yang sebenarnya dilakukan.

Karena itu, yang perlu dilihat bukan hanya siapa bisnisnya, tetapi apa yang dijual atau layanan apa yang diberikan.

45 Kelas Merek: Barang dan Jasa

Secara umum, Nice Classification membagi kelas menjadi dua kelompok besar.

Kelas 1–34: Barang

Kelas 1 sampai 34 digunakan untuk berbagai jenis barang.

Contohnya:

  • Kelas 3 untuk berbagai produk kosmetik dan perawatan tertentu
  • Kelas 9 untuk berbagai perangkat dan produk teknologi tertentu
  • Kelas 25 untuk pakaian, alas kaki, dan tutup kepala
  • Kelas 29 untuk berbagai produk makanan olahan tertentu
  • Kelas 30 untuk berbagai produk makanan, bumbu, roti, dan produk sejenis
  • Kelas 32 untuk berbagai jenis minuman non-alkohol tertentu

Namun, contoh tersebut tidak berarti semua produk dengan kategori umum yang sama otomatis masuk ke kelas tersebut.

Jenis produk, fungsi, bahan, serta karakteristik lainnya dapat memengaruhi klasifikasinya.

Kelas 35–45: Jasa

Sementara itu, kelas 35 sampai 45 digunakan untuk berbagai jenis jasa.

Contohnya:

  • Kelas 35: periklanan, manajemen bisnis, dan aktivitas perdagangan tertentu
  • Kelas 36: jasa keuangan dan properti
  • Kelas 41: pendidikan, pelatihan, hiburan, dan aktivitas tertentu
  • Kelas 42: teknologi, desain, pengembangan perangkat lunak, dan layanan terkait
  • Kelas 43: penyediaan akomodasi serta layanan makanan dan minuman tertentu
  • Kelas 44: layanan medis, kecantikan, dan layanan terkait
  • Kelas 45: layanan hukum dan keamanan tertentu

Karena setiap kelas memiliki cakupan yang cukup luas, pemilik bisnis sebaiknya tidak menentukan kelas hanya berdasarkan tebakan.

Baca juga: Jenis HKI di Indonesia: Mana yang Dibutuhkan Bisnis Anda?

Contoh Kelas Merek untuk Beberapa Jenis Bisnis

Agar lebih mudah dipahami, mari gunakan beberapa contoh bisnis.

1. Clothing Brand

Misalnya sebuah bisnis memiliki brand fashion dan menjual:

  • Kaos
  • Celana
  • Jaket
  • Topi

Produk seperti pakaian, alas kaki, dan tutup kepala dapat berkaitan dengan kelas 25.

Namun, jika bisnis juga menjual produk lain seperti tas atau aksesori tertentu, pemilik bisnis perlu memeriksa apakah produk tersebut berada di kelas yang sama atau membutuhkan klasifikasi berbeda.

Artinya, jangan langsung menganggap semua produk fashion berada di kelas 25.

2. Brand Makanan

Sebuah bisnis menjual makanan kemasan dengan brand sendiri.

Pemilik bisnis mungkin langsung berpikir:

“Berarti tinggal daftar kelas makanan.”

Padahal, makanan memiliki banyak jenis.

Misalnya produk daging olahan, produk susu, makanan ringan, roti, bumbu, atau produk lainnya dapat memiliki klasifikasi yang berbeda.

DJKI juga menggunakan fungsi dan karakteristik barang sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan klasifikasi.

Jadi, jenis produk perlu diperiksa secara spesifik.

3. Agency Digital Marketing

Sekarang bayangkan sebuah agency yang menyediakan:

  • Digital marketing
  • Social media management
  • Advertising
  • Konsultasi bisnis

Karena bisnis tersebut menjual layanan, pembahasannya masuk ke kelompok kelas jasa.

Namun, bukan berarti semua agency otomatis cukup menggunakan satu kelas yang sama.

Layanan yang sebenarnya diberikan perlu dipetakan terlebih dahulu untuk menentukan klasifikasi yang relevan.

4. Klinik Kecantikan

Klinik juga dapat memiliki beberapa aktivitas yang perlu diperhatikan.

Misalnya:

  • Perawatan kecantikan
  • Konsultasi
  • Layanan medis tertentu
  • Produk perawatan

Jasa dan produk merupakan dua hal berbeda.

Karena itu, pemilik bisnis perlu melihat apakah brand digunakan hanya untuk layanan atau juga untuk produk yang dijual dengan brand tersebut.

Satu Brand Bisa Membutuhkan Lebih dari Satu Kelas

Ini salah satu hal yang penting dipahami.

Satu brand tidak selalu berarti satu kelas.

Misalnya sebuah bisnis memiliki brand “ABC”.

Awalnya brand tersebut hanya digunakan untuk menjual pakaian.

Kemudian bisnis berkembang dan mulai menjual:

  • Pakaian
  • Tas
  • Aksesori
  • Jasa retail

Artinya, kebutuhan perlindungan mereknya juga dapat berkembang.

Pendaftaran dalam lebih dari satu kelas dapat dilakukan apabila memang terdapat barang atau jasa yang relevan untuk dilindungi.

Jadi, pemilik bisnis perlu melihat bukan hanya bisnisnya hari ini, tetapi juga bagaimana brand tersebut digunakan dalam aktivitas bisnis.

Namun, bukan berarti semua kelas perlu didaftarkan sekaligus.

Yang lebih penting adalah menentukan kelas berdasarkan kegiatan nyata dan kebutuhan perlindungan yang relevan.

Jangan Memilih Kelas Hanya Berdasarkan Nama Bisnis

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah memilih kelas berdasarkan nama atau kategori bisnis.

Misalnya:

“Bisnis saya coffee shop, berarti pasti kelas 43.”

Belum tentu seluruh aktivitas bisnis hanya berkaitan dengan satu kelas.

Sebuah coffee shop bisa saja:

  • Menyediakan makanan dan minuman di tempat
  • Menjual kopi kemasan dengan brand sendiri
  • Menjual merchandise
  • Menjual produk makanan kemasan
  • Menyediakan layanan lainnya

Setiap aktivitas tersebut perlu dilihat berdasarkan barang atau jasa yang sebenarnya ditawarkan.

Begitu juga dengan clothing brand.

Nama bisnisnya boleh saja “fashion”, tetapi produk yang dijual bisa lebih beragam.

Jadi, nama bisnis bukan satu-satunya dasar untuk menentukan kelas merek.

Baca juga: Kapan Harus Daftar Merek? Jangan Tunggu Brand Terkenal

Bagaimana Cara Menentukan Kelas Merek?

Sebelum menentukan kelas, coba mulai dari aktivitas bisnis.

Langkah 1: Buat daftar semua produk atau jasa

Jangan langsung membuka daftar kelas.

Tulis terlebih dahulu semua yang dijual atau diberikan kepada pelanggan.

Contohnya:

Produk:

  • Kaos
  • Celana
  • Jaket
  • Tas

Jasa:

  • Konsultasi
  • Social media management
  • Digital advertising

Dengan cara ini, pemilik bisnis bisa melihat gambaran aktivitas brand secara keseluruhan.

Langkah 2: Bedakan Barang dan Jasa

Pisahkan mana yang merupakan produk dan mana yang merupakan layanan.

Ini membantu mempersempit kelompok kelas yang perlu diperiksa.

Langkah 3: Periksa Klasifikasi

DJKI menyediakan Sistem Klasifikasi Merek yang dapat digunakan untuk mencari jenis barang atau jasa berdasarkan kata kunci.

Jangan hanya mencari nomor kelas.

Perhatikan juga uraian barang atau jasa yang terdapat di dalam kelas tersebut.

Langkah 4: Periksa Fungsi dan Karakteristik

Satu kategori umum bisa memiliki klasifikasi berbeda tergantung fungsi atau karakteristik barangnya.

DJKI menjelaskan bahwa dalam menentukan klasifikasi barang, fungsi dan bahan pembuat dapat menjadi pertimbangan.

Karena itu, jangan hanya mencari berdasarkan nama produk.

Langkah 5: Cocokkan dengan Aktivitas Bisnis

Setelah menemukan kandidat kelas, tanyakan:

“Apakah uraian barang atau jasa ini benar-benar menggambarkan aktivitas bisnis saya?”

Jika jawabannya belum jelas, sebaiknya lakukan pemeriksaan lebih lanjut sebelum mengajukan permohonan.

Kelas Sama Bukan Berarti Semua Barang Sama

Ada satu hal lagi yang sering disalahpahami.

Dua merek yang berada dalam kelas yang sama tidak otomatis berarti barang atau jasanya pasti dianggap sama atau sejenis.

DJKI menjelaskan bahwa penentuan sejenis atau tidaknya barang/jasa tidak hanya melihat nomor kelas. Faktor seperti sifat barang, tujuan penggunaan, metode penggunaan, saluran distribusi, hubungan komplementer, tingkat persaingan, dan konsumen yang relevan dapat menjadi pertimbangan.

Jadi, nomor kelas merupakan bagian dari sistem klasifikasi, bukan satu-satunya faktor dalam menilai kesamaan barang atau jasa.

Hal ini juga menunjukkan mengapa pemeriksaan merek sebaiknya tidak dilakukan hanya dengan melihat apakah ada brand lain pada nomor kelas yang sama.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari

Sebelum mendaftarkan merek, perhatikan beberapa kesalahan berikut:

  • Memilih kelas hanya berdasarkan nama bisnis
  • Menganggap semua produk dalam satu kategori berada di kelas yang sama
  • Tidak membaca uraian barang/jasa
  • Hanya mendaftarkan produk utama tanpa melihat aktivitas brand lainnya
  • Meniru kelas milik bisnis lain
  • Menganggap satu brand selalu membutuhkan satu kelas
  • Tidak mempertimbangkan rencana pengembangan produk atau jasa
  • Tidak melakukan pemeriksaan merek sebelum mengajukan pendaftaran

Kesalahan pada tahap pemetaan dapat membuat pemilik bisnis perlu mengevaluasi kembali kebutuhan perlindungan mereknya.

Checklist Sebelum Menentukan Kelas Merek

Sebelum mengajukan pendaftaran, coba cek:

  • Semua produk yang dijual sudah dicatat
  • Semua jasa yang ditawarkan sudah dicatat
  • Barang dan jasa sudah dipisahkan
  • Kelas barang/jasa sudah diperiksa
  • Uraian barang/jasa sudah dibaca
  • Fungsi dan karakteristik produk sudah diperhatikan
  • Kelas tidak dipilih hanya berdasarkan nama bisnis
  • Kebutuhan lebih dari satu kelas sudah dipertimbangkan
  • Rencana pengembangan brand sudah diperhatikan
  • Pencarian merek sudah dilakukan sebelum mengajukan permohonan

Checklist ini sederhana, tetapi dapat membantu menghindari keputusan yang terlalu terburu-buru.

Kelas Merek Harus Mengikuti Aktivitas Bisnis

Menentukan kelas merek sebaiknya tidak dilakukan hanya karena melihat bisnis lain menggunakan kelas tertentu.

Setiap bisnis memiliki produk, jasa, model operasional, dan rencana pengembangan yang berbeda.

Karena itu, langkah yang lebih tepat adalah mulai dari pertanyaan sederhana:

“Brand ini digunakan untuk menjual apa?”

Dari sana, petakan seluruh barang dan jasa yang benar-benar ditawarkan.

Baru kemudian cari kelas yang sesuai dan periksa uraian barang atau jasanya.

Dengan begitu, pendaftaran merek tidak hanya berfokus pada mendapatkan sertifikat, tetapi juga memastikan kebutuhan perlindungan brand sudah dipetakan dengan lebih baik.

Jika kamu masih bingung menentukan kelas merek untuk bisnis di Bali, Bali Trademark Service dapat membantu kamu memetakan kebutuhan perlindungan merek berdasarkan produk dan jasa yang kamu jalankan.

Untuk konsultasi lebih lanjut, kamu juga bisa menghubungi Bali Trademark Service melalui WhatsApp.

Karena semakin tepat kelas yang dipetakan sejak awal, semakin jelas pula ruang lingkup perlindungan yang ingin dibangun untuk brand bisnis.

Baca juga: Panduan Memilih Kelas Merek yang Tepat agar Pendaftaran Tidak Ditolak

FAQ

Berapa lama proses pendaftaran merek?

Pendaftaran merek dagang di Indonesia biasanya memakan waktu 6-12 bulan.

Namun, tanggal prioritas Anda dimulai saat permohonan Anda diajukan secara resmi, bukan saat sertifikat tiba.

Anggap saja seperti memesan tempat Anda dalam antrean. Semakin cepat Anda mengajukan permohonan, semakin cepat hak merek dagang Anda mulai dihitung dari tanggal pengajuan tersebut.

Apakah merek saya pasti disetujui?

Tidak ada pihak yang dapat menjamin sebuah merek pasti disetujui. Persetujuan bergantung pada hasil pemeriksaan DJKI, termasuk apakah terdapat persamaan dengan merek yang telah terdaftar atau alasan hukum lainnya. Karena itu, pengecekan awal sebelum mengajukan permohonan sangat disarankan.

Apakah saya harus memiliki usaha untuk mendaftarkan merek?

Tidak selalu. Merek dapat didaftarkan oleh perorangan maupun badan usaha, selama memenuhi persyaratan yang berlaku.

Apa saja dokumen yang diperlukan?

Umumnya Anda perlu menyiapkan identitas pemohon, logo atau nama merek yang akan didaftarkan, serta menentukan kelas barang atau jasa yang sesuai. Jika diajukan oleh perusahaan, biasanya diperlukan dokumen legalitas perusahaan.

Berapa biaya pendaftaran merek?

Biaya terdiri dari biaya resmi pemerintah dan, apabila menggunakan jasa konsultan, biaya pendampingan. Besarnya dapat berbeda tergantung jumlah kelas yang didaftarkan dan kebutuhan layanan.

Bagaimana jika merek saya ditolak?

Apabila terjadi penolakan, masih terdapat mekanisme sesuai ketentuan yang berlaku, tergantung alasan penolakan. Oleh karena itu, melakukan analisis awal sebelum pengajuan dapat membantu mengurangi risiko tersebut.

Apakah saya bisa mendaftarkan merek sendiri?

Bisa. Namun, banyak pelaku usaha memilih menggunakan pendampingan profesional agar proses penentuan kelas, pemeriksaan awal, dan penyusunan dokumen lebih tepat sehingga potensi kendala dapat diminimalkan.

Apa perbedaan ™ dan ®?

Simbol ™ umumnya digunakan untuk menunjukkan klaim penggunaan suatu merek, sedangkan ® hanya dapat digunakan setelah merek resmi terdaftar dan memperoleh perlindungan hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Apakah merek berlaku selamanya?

Tidak. Perlindungan merek memiliki jangka waktu tertentu dan dapat diperpanjang sesuai peraturan yang berlaku selama persyaratan perpanjangan dipenuhi.

Mengapa menggunakan Bali Trademark Service?

Bali Trademark Service membantu proses pendaftaran merek mulai dari konsultasi awal, pengecekan dasar, penyusunan dokumen, hingga pendampingan selama proses pengajuan. Dengan pendampingan yang tepat, Anda dapat memahami setiap tahapan dengan lebih jelas dan mengurangi potensi kesalahan administratif.